Minggu, 16 November 2014

Puisi

 
Rindu Dalam Penantian karya:Astri Melani Rizky Wardani

Serpihan rindu, ingin kusapu
tapi apa dayaku, aku tak mampu..
Aku tak mampu untuk menyapu semua rinduku untuk dirimu..
Karna hanya dgn kehadiran dan senyum mu lah bisa kusapu semua rinduku.. 
 
Saat malam sunyi datang, saat itulah aku terus menanti..
Menanti datangnya seorang pnjaga hati..
Entah esok, esok, atau entah sampai kapanpun aku akan tetap menanti..
Menanti hingga ajal menghampiri..
Tapi aku yakin cinta yg sejati akan datang menghampiri..:)

Cerpen

Sahabat dan Batik

Irda cewek selalu apes dalam hal percintaannya, kadang diPHP in, kadang diduain, kadang di putusin sepihak, kasian bener kan, hihihi *ups kok malah jadi buka aib sahabat sendiri sih, maaf hilaf, hihihi…
setelah Irda ada lagi, namanya Dinar, cewek yang ahli banget melerai perdebatan dengan cara memberi petuah-petuah agar perdebatan cepat teredam, gak tau kenapa ya kalau si Dinar udah ngasih petuah panjang lebar kali tinggi kayak rumus volume pasti kita nya nurust dan menyudahi perdebatan “apapun itu” *ya daripada Ria nya ngoceh terus, kan capek dengerinnya.
Setelah Irda dan Dinar terakhir ada Refa cewek yang ahli dalam bidang Fashion, dia selalu menomersatukan penampilan, pernah ada kejadian waktu itu kami berempat janjian untuk main ya waktu itu janjian jam 10.00 pagi dan dia baru dateng jam 11.30 gila, kita bertiga nungguin sampe berjamur tau gak sih, dan seketikanya dia dateng dia malah cengar-cengir dan minta maaf karna sepatu yg mau dipake nya itu yg 1 gak tau dimana. Gila gak sih kayak gitu tuh? Padahal dia ini kolektoor sepatu loh alesannya simple, karna sepatu yang lain itu gak mecing sama baju yang dipakenya *fiuuuuuuuhhhh cape deeeeehhhh.
Mereka itu sahabatku semua. Karakteristiknya beda-beda kan? Tapi kita tetap solid bro, kita berpegang sama semboyan sama kayak semboyan negara kita “BHINEKA TUNGGAL IKA” berbeda-beda tapi tetap 1 jua. Persahabatan kita udah dari SD sampe sekarang kita duduk di SMA kelas 2, udah lama kan , dan dari SD sampe SMA kita selalu 1 sekolahan, gak kebayang kalok suatu saat harus pisah.
Oke, Sahabat udah ku kenalin semua, sekarang giliran aku ngenalin diriku. Namaku Astri cewek lahiran Metro 27 agustus 1998. Kata sahabatku aku itu orangnya simple, cuek, tapi peduli banget sama sahabatnya.
Tapi walaupun kami berempat itu berbeda, 1 yg selalu kami jaga, kesolidaritasan, ya agar persahabatan selalu terjalin sesuai hakikatnya.
Oke deh, perkenalannya cukup sekarang waktunya cerita.
Ceritanya Hari minggu tanggal 26 Oktober 2014 kemarin kami jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan di dekat kota kami. 1 tujuan kami, adalah tempat yg menjual baju, namun setelah sampai kamipun terpisah karna selera yang berbeda, Dinar dan Irda memilih baju ala Korean style. Sedangkan aku dan Refa memilih grosir batik. Sebenarnya Refa tidak terlalu suka dengan Indonesian style, tapi Refa mau nemenin aku sekedar untuk membantu memilihkan yang mana yang lebih bagus untukku, karna diantara kami berempat, Cuma aku yang rada kolot, wkwkwk emang kolot sih, gak ngerti mana fashion yang lagi ngetren, yang aku tau pakaian itu yang penting sopan dan menutupi aurat. Disana aku memilih-milih baju yang sesuai untukku begitupun Refa. “Fa, menurut kamu yang ini gimana buat gue?” tanyaku membuka perbincangan kami berdua didalam sebuah grosir batik. “ah, jangan yang ini as, modelnya terlalu kolot” jawab Refa. Dalam hatiku: dipikir-pikir emang iya sih, yang dipilihin refa emang lebih trendy daripada pilihanku. Lalu aku bertanya lagi ke Refa“apa iya fa? Yaudah deh nurut aja sama pilihan sahabat, jugaan kamu tau lah aku emang gak terlalu ngikutin perkembangan fashion antar zaman, hahahaha” kamipun tertawa. Disela tawa kami, ternyata Irda dan Dinar udah nongol aja “eh woy, ngomongin apa sih lo? Asik bener kayaknya” celetuk Irda. “haha, ini nih temen lo, dalam pengetahuan sekolah oke, tapi kalok urusan fashion? Cetek banget, pilihannya itu pasti cemen banget, kolot !!” jawab Refa sambil mengangkat alis dan mengangkat jempolnya lalu membalikkannya sebagai tanda cemen. “iya, terusin aja terus, kecengin aja gue nya, terusin sampek tuwek sampek elek” selaku. “udah sih udah, malah kayak apakah loh kalian ini, namanya sahabat itu gunanya emang saling bantu, ya Astri cemen dalam hal fashion, makanya itu kita bantu pilihin yg sesuai buat Astri” kata Dinar mencoba melerai perdebatan antara kami.  “yaudah, iya iya, maaf ya Astri Melani Rizky Wardani, kan Cuma becandaan aja” kata Refa sambil tangannya merangkul pundakku. “iya sih fa, ya nyantai aja loh, yaudah barangnya udah dapet, yakin yang ini yg bagus buat aku?” tanyaku meminta pendapat lagi karna belum terlalu yakin dengan pilihan mereka apakah akan benar bagus untukku atau tidak. “heeeuuuuuhhhhh, dasar emak rempong, tanya Irda sama dinar sono, pasti mereka setuju sama pilihanku” jawab Refa dengan nada kesal. “Ir, Din, bagus yang mana? yang ini atau yang ini?” tanyaku sambil menunjukkan 2 baju, kanan pilihan Refa, sedangkan kiri pilihanku. “yang ini bagus sih, tapi aku lebih suka yg ini” jawab dinar dengan menunjuk baju yg ada ditangan kananku “iya As, yg ini lebih trendy dan cocok kok kalok buat kamu” lanjut Irda. “nah kan bener, mereka setuju, udah gih cepet bayar bajunya, abis itu gek ke Hokben, udah laper gueeee!!” kata Refa menanggapi jawaban Irda dan Dinar. “oke-oke gue bayar dulu, sabar sih, gak usah ngomel mulu, cepet tua ntar lo, kalok udah tua trus mati deh, hahaahaha” aku pergi ke kasir, tapi aku liat muka Refa merah tanda dia lagi marah, 2 sungut bak setannya muncul, hahahaha.
Setelah bayar, kita pun beranjak dari grosir batik ke Hokben/hoka-hoka bento, Restaurant Jepang yg kini sudah menjamur diseluruh dunia. Dalam perjalanan terjadi sebuah perbincangan “eh As, ngapa sih lo, suka bener sama batik, kan kayak jaman dulu banget” kata Refa membuka perbincangan. “aku suka batik, alasannya simple, karna aku cinta produk Indonesiaaku cinta produk buatan negriku sendiri. Masalah kayak jaman dulu, aku gak terlalu meduliin, kamu tau kan prinsip berpakaianku kayak gimana” jawabku. “iya deh iya ngerti, yg penting sopan dan menutup aurat” sambung Refa. “nah itu tau, yaudah lah masalah fashion kan selera, semua orang berhak atas seleranya masing-masing kan” , “namun alangkah baiknya jika kita juga mencintai produk dalam negeri, batik ini misalnya” lanjutku sambil menunjuk baju yg tadi kubeli. “yang dibilang Astri bener juga sih, gak ada salahnya mencintai produk dalam negeri, batik misalnya, sebagai salah satu warisan budaya yang dimiliki oleh Indonesia dan kalau kita membeli batik itu artinya kita juga meningkatkan perekonomian negara kita. Seperti kita tahu, mengurangi belanja produk impor dengan meningkatkan belanja produk dalam negeri itu artinya kita telah membantu para pembatik agar terus berkarya dan usahanya terus hidup dan itu artinya kita telah membantu meningkatkan ekonomi negara kita” kata Dinar membenarkanku sambil menjelaskan manfaat membeli produk dalam negeri. “setuju binggo sama dinar. oke, gimana kalok mulai sekarang kita coba untuk koleksi batik, sebagai tanda kalok kita ini cinta produk dalam negeri, tapi ya kalau kita masih suka sama ala Korean style ya gak papa, gue juga gak mungkin berenti untuk suka sama super junior, tapi ya dikurangi, gimana?” Irda melanjutkan jawaban Dinar. “oke setuju, tapi walaupun kita koleksi batik, koleksinya yang keren ya, seleranya jangan kayak Astri, hahahahaha” tanggapan Refa yang setuju sekaligus meledekku juga, *fiuuuuh. “eh bodo amat selera fashion kolot, asal orangnya gak kolot, wek” jawabku mencoba membela diri. “nah kan berantem lagi, udah sih udah, yang penting tu kita sekarang berubah, dan mencintai produk dalam negri, janji ya mulai sekarang suka produk dalam negeri” kata dinar dan kami mengikatkan antar jari kelingking kami tanda janji untuk mencintai produk dalam negeri.
Sesampainya hokben, Dinar dan Irda langsung memesan makanan, sedangkan aku dan Refa duduk manis menunggu makanan sampai. Tak sengaja terlintas dipikiranku, Alhamdulillah akhirnya sahabatku mau berubah, mau memikirkan karya Indonesia, dan berjanji akan mencintai produk Indonesia. Namun alangkah indahnya lagi kalau semua remaja Indonesia lebih menyukai produk dalam negeri dan manfaatnya akan sangat besar untuk perekonomian dan status batik di kancah dunia. Tiba-tiba saja Dinar dan Irda mengagetkanku “eh woy, ngelamun aja, makan dulu, keburu dingin” dan kami pun menyantap makanan yang telah dipesan oleh Dinar dan Irda sampai habis.