Sahabat dan Batik
Irda cewek selalu apes dalam hal
percintaannya, kadang diPHP in, kadang diduain, kadang di putusin sepihak,
kasian bener kan, hihihi *ups kok malah jadi buka aib sahabat sendiri sih, maaf
hilaf, hihihi…
setelah Irda ada lagi, namanya
Dinar, cewek yang ahli banget melerai perdebatan dengan cara memberi
petuah-petuah agar perdebatan cepat teredam, gak tau kenapa ya kalau si Dinar
udah ngasih petuah panjang lebar kali tinggi kayak rumus volume pasti kita nya
nurust dan menyudahi perdebatan “apapun itu” *ya daripada Ria nya ngoceh terus,
kan capek dengerinnya.
Setelah Irda dan Dinar terakhir
ada Refa cewek yang ahli dalam bidang Fashion, dia selalu menomersatukan
penampilan, pernah ada kejadian waktu itu kami berempat janjian untuk main ya
waktu itu janjian jam 10.00 pagi dan dia baru dateng jam 11.30 gila, kita
bertiga nungguin sampe berjamur tau gak sih, dan seketikanya dia dateng dia
malah cengar-cengir dan minta maaf karna sepatu yg mau dipake nya itu yg 1 gak
tau dimana. Gila gak sih kayak gitu tuh? Padahal dia ini kolektoor sepatu loh
alesannya simple, karna sepatu yang lain itu gak mecing sama baju yang
dipakenya *fiuuuuuuuhhhh cape deeeeehhhh.
Mereka itu sahabatku semua.
Karakteristiknya beda-beda kan? Tapi kita tetap solid bro, kita berpegang sama
semboyan sama kayak semboyan negara kita “BHINEKA TUNGGAL IKA” berbeda-beda
tapi tetap 1 jua. Persahabatan kita udah dari SD sampe sekarang kita duduk di
SMA kelas 2, udah lama kan , dan dari SD sampe SMA kita selalu 1 sekolahan, gak
kebayang kalok suatu saat harus pisah.
Oke, Sahabat udah ku kenalin
semua, sekarang giliran aku ngenalin diriku. Namaku Astri cewek lahiran Metro
27 agustus 1998. Kata sahabatku aku itu orangnya simple, cuek, tapi peduli
banget sama sahabatnya.
Tapi walaupun kami berempat itu
berbeda, 1 yg selalu kami jaga, kesolidaritasan, ya agar persahabatan selalu
terjalin sesuai hakikatnya.
Oke deh, perkenalannya cukup
sekarang waktunya cerita.
Ceritanya Hari minggu tanggal 26
Oktober 2014 kemarin kami jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan di dekat
kota kami. 1 tujuan kami, adalah tempat yg menjual baju, namun setelah sampai
kamipun terpisah karna selera yang berbeda, Dinar dan Irda memilih baju ala
Korean style. Sedangkan aku dan Refa memilih grosir batik. Sebenarnya Refa
tidak terlalu suka dengan Indonesian style, tapi Refa mau nemenin aku sekedar untuk
membantu memilihkan yang mana yang lebih bagus untukku, karna diantara kami
berempat, Cuma aku yang rada kolot, wkwkwk emang kolot sih, gak ngerti mana
fashion yang lagi ngetren, yang aku tau pakaian itu yang penting sopan dan
menutupi aurat. Disana aku memilih-milih baju yang sesuai untukku begitupun
Refa. “Fa, menurut kamu yang ini gimana buat gue?” tanyaku membuka perbincangan
kami berdua didalam sebuah grosir batik. “ah, jangan yang ini as, modelnya
terlalu kolot” jawab Refa. Dalam hatiku: dipikir-pikir emang iya sih, yang
dipilihin refa emang lebih trendy daripada pilihanku. Lalu aku bertanya lagi ke
Refa“apa iya fa? Yaudah deh nurut aja sama pilihan sahabat, jugaan kamu tau lah
aku emang gak terlalu ngikutin perkembangan fashion antar zaman, hahahaha”
kamipun tertawa. Disela tawa kami, ternyata Irda dan Dinar udah nongol aja “eh
woy, ngomongin apa sih lo? Asik bener kayaknya” celetuk Irda. “haha, ini nih
temen lo, dalam pengetahuan sekolah oke, tapi kalok urusan fashion? Cetek
banget, pilihannya itu pasti cemen banget, kolot !!” jawab Refa sambil mengangkat
alis dan mengangkat jempolnya lalu membalikkannya sebagai tanda cemen. “iya,
terusin aja terus, kecengin aja gue nya, terusin sampek tuwek sampek elek”
selaku. “udah sih udah, malah kayak apakah loh kalian ini, namanya sahabat itu
gunanya emang saling bantu, ya Astri cemen dalam hal fashion, makanya itu kita
bantu pilihin yg sesuai buat Astri” kata Dinar mencoba melerai perdebatan antara
kami. “yaudah, iya iya, maaf ya Astri
Melani Rizky Wardani, kan Cuma becandaan aja” kata Refa sambil tangannya
merangkul pundakku. “iya sih fa, ya nyantai aja loh, yaudah barangnya udah
dapet, yakin yang ini yg bagus buat aku?” tanyaku meminta pendapat lagi karna
belum terlalu yakin dengan pilihan mereka apakah akan benar bagus untukku atau
tidak. “heeeuuuuuhhhhh, dasar emak rempong, tanya Irda sama dinar sono, pasti
mereka setuju sama pilihanku” jawab Refa dengan nada kesal. “Ir, Din, bagus yang
mana? yang ini atau yang ini?” tanyaku sambil menunjukkan 2 baju, kanan pilihan
Refa, sedangkan kiri pilihanku. “yang ini bagus sih, tapi aku lebih suka yg
ini” jawab dinar dengan menunjuk baju yg ada ditangan kananku “iya As, yg ini
lebih trendy dan cocok kok kalok buat kamu” lanjut Irda. “nah kan bener, mereka
setuju, udah gih cepet bayar bajunya, abis itu gek ke Hokben, udah laper
gueeee!!” kata Refa menanggapi jawaban Irda dan Dinar. “oke-oke gue bayar dulu,
sabar sih, gak usah ngomel mulu, cepet tua ntar lo, kalok udah tua trus mati
deh, hahaahaha” aku pergi ke kasir, tapi aku liat muka Refa merah tanda dia
lagi marah, 2 sungut bak setannya muncul, hahahaha.
Setelah bayar, kita pun beranjak
dari grosir batik ke Hokben/hoka-hoka bento, Restaurant Jepang yg kini sudah
menjamur diseluruh dunia. Dalam perjalanan terjadi sebuah perbincangan “eh As,
ngapa sih lo, suka bener sama batik, kan kayak jaman dulu banget” kata Refa
membuka perbincangan. “aku suka batik, alasannya simple, karna aku cinta produk
Indonesiaaku cinta produk buatan negriku sendiri. Masalah kayak jaman dulu, aku
gak terlalu meduliin, kamu tau kan prinsip berpakaianku kayak gimana” jawabku.
“iya deh iya ngerti, yg penting sopan dan menutup aurat” sambung Refa. “nah itu
tau, yaudah lah masalah fashion kan selera, semua orang berhak atas seleranya
masing-masing kan” , “namun alangkah baiknya jika kita juga mencintai produk
dalam negeri, batik ini misalnya” lanjutku sambil menunjuk baju yg tadi kubeli.
“yang dibilang Astri bener juga sih, gak ada salahnya mencintai produk dalam
negeri, batik misalnya, sebagai salah satu warisan budaya yang dimiliki oleh
Indonesia dan kalau kita membeli batik itu artinya kita juga meningkatkan
perekonomian negara kita. Seperti kita tahu, mengurangi belanja produk impor
dengan meningkatkan belanja produk dalam negeri itu artinya kita telah membantu
para pembatik agar terus berkarya dan usahanya terus hidup dan itu artinya kita
telah membantu meningkatkan ekonomi negara kita” kata Dinar membenarkanku
sambil menjelaskan manfaat membeli produk dalam negeri. “setuju binggo sama
dinar. oke, gimana kalok mulai sekarang kita coba untuk koleksi batik, sebagai
tanda kalok kita ini cinta produk dalam negeri, tapi ya kalau kita masih suka
sama ala Korean style ya gak papa, gue juga gak mungkin berenti untuk suka sama
super junior, tapi ya dikurangi, gimana?” Irda melanjutkan jawaban Dinar. “oke
setuju, tapi walaupun kita koleksi batik, koleksinya yang keren ya, seleranya
jangan kayak Astri, hahahahaha” tanggapan Refa yang setuju sekaligus meledekku
juga, *fiuuuuh. “eh bodo amat selera fashion kolot, asal orangnya gak kolot,
wek” jawabku mencoba membela diri. “nah kan berantem lagi, udah sih udah, yang
penting tu kita sekarang berubah, dan mencintai produk dalam negri, janji ya mulai
sekarang suka produk dalam negeri” kata dinar dan kami mengikatkan antar jari
kelingking kami tanda janji untuk mencintai produk dalam negeri.
Sesampainya hokben, Dinar dan
Irda langsung memesan makanan, sedangkan aku dan Refa duduk manis menunggu makanan
sampai. Tak sengaja terlintas dipikiranku, Alhamdulillah akhirnya sahabatku mau
berubah, mau memikirkan karya Indonesia, dan berjanji akan mencintai produk
Indonesia. Namun alangkah indahnya lagi kalau semua remaja Indonesia lebih
menyukai produk dalam negeri dan manfaatnya akan sangat besar untuk perekonomian
dan status batik di kancah dunia. Tiba-tiba saja Dinar dan Irda mengagetkanku
“eh woy, ngelamun aja, makan dulu, keburu dingin” dan kami pun menyantap
makanan yang telah dipesan oleh Dinar dan Irda sampai habis.